Entity Infrastructure Decision tree 6 menit

Entity Infrastructure: Subdomain vs Folder

Kapan meletakkan produk atau vertical di subdomain (shop.domain.com) vs folder (domain.com/shop)? Keputusan ini punya konsekuensi entity yang jarang dibahas.

Debat subdomain vs folder sering hanya dibingkai sebagai technical SEO. Tapi dari sudut entity infrastructure, pertanyaannya berbeda: apakah yang di baliknya adalah entitas yang sama atau beda? Jawaban itu yang menentukan struktur, bukan ROI crawl budget.

Pertanyaan yang benar

  1. Apakah entitas hukum sama?

    Satu PT = cenderung folder. PT berbeda = subdomain lebih jujur. Contoh: tools.hibranwar.com adalah brand berbeda di bawah PT yang sama, jadi subdomain masuk akal.

  2. Apakah audience sama?

    Audience identik = folder (shared navigation membantu). Audience berbeda (B2B + B2C) = subdomain memberikan pemisahan brand.

  3. Apakah Google Knowledge Graph harus satu atau dua node?

    Satu brand entity = folder. Dua brand entity berbeda = subdomain, masing-masing jadi WebSite + Organization canonical sendiri.

  4. Apakah konten mencemari authority signal?

    Kalau subfolder berisi konten yang tidak relevan dengan core expertise, authority domain dilute. Subdomain memisahkan.


Decision tree

SkenarioRekomendasi
Product line dari brand yang sama, audience samaFolder (/products/xyz/)
Lini bisnis beda, target audience bedaSubdomain (b2b.brand.com)
Lead magnet hub / lead gen toolsSubdomain (tools.brand.com)
Documentation / dev portal untuk API brandSubdomain (docs.brand.com)
Internal panel (admin, dashboard)Subdomain (app.brand.com)
Blog editorial untuk brandFolder (/blog/) — kecuali publishing arm terpisah
E-commerce subsidiary brandSubdomain atau domain terpisah
Mini-site campaign (temporary)Subdomain, takedown setelah campaign

Implikasi schema

  • Folder: satu Organization dan satu WebSite. Graph merujuk parent Organization dari mana pun di situs.
  • Subdomain: WebSite masing-masing. Organization bisa sama (rujuk via @id ke parent domain) atau beda (subsidiary dengan Organization canonical sendiri).
  • Subdomain subsidiary: gunakan parentOrganization di schema untuk hubungan, bukan isPartOf.
  • Subdomain utility: gunakan WebSite + link sameAs kembali ke parent, tidak perlu Organization baru.
Kasus tools.hibranwar.com

Tools subdomain diputuskan bukan folder karena: (a) audience berbeda (konsumer Indonesia vs B2B enterprise), (b) brand positioning berbeda (free tools vs premium consulting), (c) lebih bersih untuk schema WebSite + Organization terpisah.

Common mistakes

Lakukan

  • Tulis decision memo sebelum split. Simpan di repo.
  • Pasang cross-link schema bila entitas terkait.
  • Konsisten: pilih satu pola untuk kasus serupa.

Hindari

  • Split subdomain hanya untuk 'SEO boost'. Itu mitos.
  • Buat subdomain lalu lupa redirect 404 kalau folder lama masih dilink.
  • Duplikasi Organization schema di parent dan subdomain.